MPLS Ramah 2026 hadir sebagai upaya memperkenalkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh perhatian sejak hari pertama siswa baru. Tema “MPLS Ramah” ditetapkan sebagai langkah untuk menanamkan rasa aman, percaya diri, dan kebiasaan saling menghargai di lingkungan pendidikan. Penetapan materi pembelajaran termasuk Membangun Kesiapsiagaan Bencana menunjukkan perubahan pandangan: pendidikan kebencanaan kini menjadi bagian integral dari pembentukan karakter peserta didik. Penulis, Tasril Mulyadi, yang aktif sebagai pegiat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan instruktur BNSP Level IV, mencatat pelaksanaan materi ini di sejumlah sekolah di Jakarta dan Tangerang Selatan.
Kebijakan dan kerangka yang mendasari
Perlunya pendidikan kebencanaan pada MPLS Ramah didukung oleh sejumlah regulasi nasional. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026 mengatur tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, disusul Keputusan Menteri Nomor 198 Tahun 2026 yang merinci uraian materi MPLS Ramah. Di level operasional, Peraturan Sekretaris Jenderal Kemdikbudristek Nomor 6 Tahun 2023 memberikan petunjuk teknis pelaksanaan Program SPAB. Upaya membangun sekolah aman juga berakar pada aturan yang lebih awal, seperti Peraturan Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2012 tentang pedoman penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang penyelenggaraan Program SPAB. Keselarasan kebijakan ini menegaskan bahwa pendidikan kebencanaan bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari kebijakan nasional untuk meningkatkan ketangguhan sektor pendidikan.
Implementasi di lapangan: pengalaman fasilitator
Dalam pelaksanaan MPLS Ramah 2026, penulis berperan sebagai narasumber dan fasilitator di beberapa sekolah, lain SMP Nurul Iman Jakarta, SMKN 14 Jakarta, SMAN 27 Jakarta, dan Sekolah Islam Terpadu Aulady di Serpong, Tangerang Selatan. Pada sesi-sesi tersebut, siswa diajak mengenali potensi bahaya di lingkungan sekolah, memahami prinsip keselamatan, serta mempraktikkan tindakan penyelamatan diri dan evakuasi mandiri. Fokus pada sesi singkat—sekitar 60–90 menit—menunjukkan bahwa pengenalan dasar kesiapsiagaan dapat dilakukan dengan waktu dan biaya yang relatif terbatas. Aktivitas seperti sosialisasi, simulasi singkat, dan praktik evakuasi menjadi sarana menumbuhkan kemampuan praktis yang diharapkan mampu menyelamatkan nyawa jika terjadi keadaan darurat.
Mengapa kesiapsiagaan merupakan investasi
MPLS Ramah menjadi contoh nyata bahwa fase prabencana adalah investasi strategis. Perhatian publik selama ini sering terfokus pada tanggap darurat, padahal pengurangan risiko—melalui mitigasi, edukasi, dan peningkatan kapasitas—memiliki manfaat jangka panjang yang jauh lebih besar. Temuan global yang dikutip dalam konteks kebijakan menegaskan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan untuk pengurangan risiko bencana dapat mengurangi kerugian ekonomi berlipat pada fase tanggap dan pemulihan. Keberlanjutan semangat MPLS Ramah menjadi tantangan berikutnya. Agar kesiapsiagaan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, diperlukan integrasi materi kebencanaan ke dalam kurikulum, latihan dan simulasi berkala, serta penguatan tata kelola sekolah yang aman. Kolaborasi lintas pihak—Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, BNPB, BPBD, Sekretariat Nasional SPAB, pemerintah daerah, satuan pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha, media, komunitas, dan masyarakat—dinilai kunci untuk memastikan sekolah benar-benar tangguh terhadap ancaman bencana. Selain itu, apresiasi diberikan kepada Sekretariat Nasional SPAB, para narasumber, fasilitator, relawan, serta guru yang telah menyampaikan materi kesiapsiagaan selama MPLS Ramah 2026. Peran aktif satuan pendidikan yang menjadikan kegiatan ini momentum membangun generasi yang lebih siap dan peduli pada keselamatan juga mendapat pengakuan. MPLS Ramah membuka peluang membentuk budaya sadar bencana sejak hari pertama anak memasuki lingkungan sekolah. Jika dijaga dan dikembangkan secara konsisten, upaya kecil hari ini berpotensi memberikan manfaat besar bagi keselamatan generasi mendatang, karena pendidikan kebencanaan tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi menyelamatkan nyawa.













































































































































