Yasanti.or.id – Wapres Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa AI kreativitas perlu dikuasai segera, bukan ditunda sampai masa depan, sebagai salah satu pendukung visi Indonesia Emas 2045. Ia menyoroti peran kecerdasan buatan yang seharusnya memperkaya proses berpikir dan menghasilkan ide baru, bukan menggantikan kapasitas intelektual manusia.

Menurut Gibran, penguasaan teknologi sekarang akan menentukan kemampuan bangsa untuk memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan era digital. Penggunaan AI yang tepat, kata dia, harus mendorong kreativitas serta inovasi di berbagai sektor tanpa mengurangi peran kemampuan berpikir kritis manusia.
Penguasaan sekarang sebagai langkah strategis
Wapres Gibran menekankan urgensi belajar dan menguasai AI saat ini ketimbang menunggu hingga nanti. Pendekatan proaktif ini dinilai penting agar Indonesia dapat menempatkan diri pada posisi yang kompetitif dalam persaingan global menuju Indonesia Emas 2045. Dengan mengedepankan penguasaan teknologi sejak dini, potensi pemanfaatan AI untuk produktivitas dan perkembangan ekonomi bisa lebih maksimal.
Fokus pada penguasaan saat ini juga membuka ruang untuk pelatihan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan adopsi teknologi yang sesuai kebutuhan lokal. Gibran menggarisbawahi bahwa proses tersebut harus inklusif sehingga berbagai lapisan masyarakat dapat memperoleh manfaat dari transformasi digital.
AI sebagai pemicu kreativitas dan inovasi
Dalam pandangan Wapres, peran AI idealnya adalah memperkaya gagasan dan mempercepat proses inovasi. AI dapat membantu mengeksplorasi ide baru, menganalisis data dalam skala besar, serta memberikan alat bantu bagi kreator dan pelaku usaha untuk menguji serta mengembangkan produk atau layanan. Namun, ia menekankan bahwa teknologi ini seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Pemanfaatan AI yang diarahkan pada penciptaan nilai tambah juga membuka peluang bagi sektor kreatif, pendidikan, dan industri untuk berkolaborasi. Menurut Gibran, integrasi AI dalam kegiatan sehari-hari perlu diarahkan agar memicu kolaborasi lintas disiplin dan meningkatkan kapasitas inovatif masyarakat.
Perhatian pada etika dan kemampuan berpikir manusia
Selain dorongan untuk menguasai teknologi, Wapres Gibran menaruh perhatian pada aspek etika dan pentingnya mempertahankan kemampuan berpikir kritis. Ia mengingatkan agar penggunaan AI tidak mengikis kemampuan manusia dalam menilai, membuat keputusan, dan berpikir kreatif. Keberlanjutan perkembangan teknologi harus diimbangi dengan upaya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan kemandirian intelektual.
Gibran juga menyinggung kebutuhan untuk menyiapkan kerangka kebijakan, pendidikan, dan pelatihan yang mendukung pengembangan kompetensi digital secara menyeluruh. Hal ini mencakup pembekalan literasi teknologi serta kemampuan berpikir kritis yang diperlukan agar masyarakat mampu memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab.
Pernyataan Wapres ini menegaskan posisi AI sebagai alat bantu yang potensial untuk mempercepat inovasi, asalkan digunakan dengan pendekatan yang bijak. Penguasaan sekarang, menurut Gibran, akan menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan menuju target Indonesia Emas 2045.


























































































































