Yasanti.or.id – UNNES telah berhasil menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat merevolusi dunia pendidikan dan psikologi.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Seminar Internasional FIPP yang diadakan oleh Universitas Negeri Semarang (UNNES) telah berhasil menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat merevolusi dunia pendidikan dan psikologi. Acara ini menjadi platform bagi akademisi, profesional, dan pengambil kebijakan untuk berdiskusi mendalam mengenai implikasi AI dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang terkait dengan pendidikan inklusif dan kesetaraan gender.
Dukungan Terhadap SDGs
Seminar bertaraf internasional ini menegaskan komitmen FIPP UNNES dalam memajukan SDGs dengan fokus khusus pada pendidikan berkualitas dan pemerataan gender. Dalam dunia yang terus berkembang dengan cepat, inklusivitas dalam pendidikan menjadi lebih penting dari sebelumnya. AI berpotensi besar untuk menjangkau siswa yang sebelumnya terpinggirkan, dengan menyediakan akses ke materi belajar yang disesuaikan terhadap kebutuhan individual.
Pendidikan dan Teknologi: Simbiosis Masa Depan
Pendidikan di era AI membawa tantangan dan peluang baru. Teknologi ini dapat mensejahterakan guru dan siswa dengan metode pengajaran yang dipersonalisasi. Namun, infrastruktur dan kesiapan mental dalam mengadopsi perubahan ini masih menjadi tantangan signifikan. Guru perlu dilatih untuk memanfaatkan AI sehingga bisa merevolusi pembelajaran tanpa kehilangan sentuhan humanis yang esensial dalam pendidikan.
Psikologi di Tengah Teknologi
Dalam konteks psikologi, integrasi AI menawarkan cara baru untuk mendukung kesehatan mental. Solusi digital, termasuk chatbot dan aplikasi yang didukung oleh AI, dapat menyediakan bantuan kesehatan mental 24/7. Namun, penting untuk mengevaluasi etika dan dampak sosial dari penerapan AI di psikologi, memastikan bahwa privasi dan keadilan bagi para pengguna tetap terjaga.
Kritik dan Peluang AI
Meskipun AI menjanjikan transformasi, kritik terkait bias algoritma dan pengambilan keputusan otomatis tetap menjadi perdebatan di kalangan pakar. Penerapan AI tanpa pengawasan dapat memperburuk kesenjangan yang ada. Oleh karena itu, partisipasi aktif dari berbagai pihak diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi ini diterapkan secara adil dan bertanggung jawab.
Strategi Implementasi AI yang Berani
Untuk mewujudkan potensi penuh AI, kolaborasi antara lembaga pendidikan, pembuat kebijakan, dan industri teknologi menjadi sangat krusial. Pendanaan riset, pelatihan tenaga kerja, dan kebijakan yang mendukung inovasi harus diselaraskan untuk memfasilitasi transisi ke era baru ini. Mengadaptasi kurikulum dengan memasukkan literasi teknologi sejak dini juga akan membekali generasi mendatang dengan keterampilan yang relevan.
Seminar ini mengajarkan bahwa masa depan pendidikan dan psikologi di era AI bukan hanya tentang adopsi teknologi, melainkan pergeseran paradigma ke arah inklusivitas dan kolaborasi antar sektor. AI dapat menjadi katalis dalam mencapai pendidikan yang adil, setara, dan berkualitas bagi semua, asalkan kita melangkah dengan hati-hati dan mempertimbangkan kepentingan setiap individu yang terlibat.

























































































