Yasanti.or.id – Bagi Murali Abdullah, menyaksikan anak-anaknya menikah sesuai syariat adalah manifestasi dari nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.
Impian setiap orang tua untuk melihat anak-anaknya bahagia dalam pernikahan adalah hal yang wajar. Bagi Murali Abdullah, seorang pengarah berusia 62 tahun asal Kuala Lumpur, kebahagiaan tersebut terwujud ketika ia menyaksikan kedua anaknya melangsungkan pernikahan sesuai dengan syarat-syarat Islam. Peristiwa ini pun menjadi momentum penting yang tidak hanya mengharukan tetapi juga memperkuat ikatan kekeluargaan serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
BACA JUGA : Kondisi PHK di DIY: Sleman Jadi Pusat Dampak Besar
Tradisi Pernikahan dalam Islam
Pernikahan dalam ajaran Islam bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan ibadah yang memiliki makna mendalam. Dalam konteks Murali, menyaksikan anak-anaknya menikah sesuai syariat adalah manifestasi dari nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Proses yang meliputi lamaran, akat, dan resepsi dihadiri oleh keluarga serta kerabat dekat menjadi penanda kuat bahwa tradisi agama tetap dijunjung tinggi meskipun zaman terus berubah.
Pernikahan Sebagai Simbol Kesyukuran
Bagi Murali, setiap detil dari pernikahan anak-anaknya adalah simbol kesyukuran. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan betapa bahagianya dia dapat melihat anak-anaknya menjalani kehidupan baru yang telah diridhai oleh Tuhan. Era modern ini sering membawa tantangan tersendiri bagi orang tua, dan bagi Murali, keberhasilan ini menunjukkan sebuah pencapaian luar biasa dalam mendidik anak-anaknya agar tetap berpegang pada nilai-nilai agama.
Peran Keluarga dalam Membentukan Karakter
Melalui observasi Murali, ia mencermati bahwa pernikahan adalah momen di mana dua keluarga bersatu. Bentuk dukungan dari keluarga bukanlah sekadar hadir pada malam pernikahan, tetapi juga dalam membangun karakter dan integritas anak-anak sejak mereka kecil. Dengan prinsip-prinsip yang diajarkan, Murali merasa bangga bahwa kedua anaknya kini menemukan pasangan hidup yang sejalan dengan keyakinan mereka.
Kepuasan Emosional Orang Tua
Melihat anak-anaknya bertumbuh dan akhirnya membangun rumah tangga sendiri adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Emosi yang dirasakan Murali bukan hanya sekedar bahagia, tetapi juga suatu kepuasan mendalam. Dia menganggap ini sebagai sebuah doa yang dikabulkan, di mana Allah SWT menuntun jalan anak-anaknya. Hati orang tua seperti Murali seolah berbunga-bunga ketika melihat impian tersebut terwujud.
Menjaga Tradisi di Era Modern
Walaupun zaman kian berkembang dan seringkali menyajikan pilihan-pilihan hidup yang beraneka ragam, Murali tetap menekankan pentingnya menjaga tradisi. Dalam pandangannya, pernikahan yang dilaksanakan sesuai syariat Islam merupakan benteng kokoh yang melindungi generasi muda dari pengaruh negatif di luar sana. Combinasinya antara nilai-nilai tradisi dan inovasi dalam kehidupan modern ini memberikan harapan baru bagi umat.
Impian Masa Depan yang Berkelanjutan
Kini, Murali berharap agar anak-anaknya dapat melanjutkan tradisi ini kepada keturunan mereka. Melihat kedua anaknya menikah sesuai dengan syariat adalah tonggak penting yang semoga dapat membuka jalan untuk generasi selanjutnya. Melalui cinta yang tulus dan iman yang kuat, tujuan untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah dapat tercapai, sehingga membentuk masa depan yang lebih baik.
Kesimpulan: Merayakan Kebahagiaan dalam Kesederhanaan
Akhirnya, kisah Murali Abdullah bukan hanya tentang kebahagiaan dalam melihat anak-anaknya menikah, tetapi juga pelajaran mengenai arti pentingnya tradisi dan nilai-nilai agama dalam kehidupan. Momen sakral ini mengingatkan kita bahwa kesederhanaan dalam merayakan pernikahan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang tiada tara. Dalam konteks yang lebih luas, pernikahan yang dilaksanakan sesuai syariat dapat menjadi kekuatan yang memberi harapan untuk masa depan yang lebih cerah, tidak hanya untuk individu tetapi juga bagi masyarakat.














































