Yasanti.or.id – Mengatasi rasa malas sekolah pada anak setelah liburan panjang memerlukan pendekatan yang holistik dari orang tua.
Libur panjang seringkali menjadi momen yang dinantikan oleh anak-anak. Mereka dapat bersantai, bermain, atau melakukan kegiatan menyenangkan bersama keluarga. Namun, tantangan mungkin muncul saat mereka harus kembali ke rutinitas sekolah setelah masa libur berakhir. Rasa malas dan kehilangan motivasi adalah hal yang umum dialami oleh anak-anak setelah liburan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu buah hati mereka melewati transisi ini dengan lebih nyaman dan efektif.
Pahami Perasaan Anak
Langkah pertama dalam mengatasi rasa malas sekolah setelah liburan adalah dengan memahami perasaan anak. Anak-anak bisa merasa cemas atau takut untuk kembali ke sekolah karena berbagai alasan, sepeti tekanan akademis atau perubahan kebiasaan. Orang tua dapat melakukan pendekatan dengan berbicara dari hati ke hati, mengajak anak untuk terbuka tentang apa yang mereka rasakan saat mengetahui liburan akan segera berakhir. Dengan mendengarkan dan validasi perasaan anak, orang tua dapat memberikan dukungan emosional yang mereka butuhkan.
Fasilitasi Penyesuaian Rutinitas
Setelah memahami perasaan anak, langkah selanjutnya adalah memfasilitasi penyesuaian kembali ke rutinitas sekolah. Orang tua bisa mulai dengan mengatur jadwal tidur yang konsisten. Pastikan anak tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari menjelang kembali ke sekolah. Selain itu, persiapkan kebutuhan sekolah secara bertahap sebelum liburan benar-benar berakhir. Mengatur peralatan sekolah dan mengecek kembali buku pelajaran bisa menjadi cara untuk membantu anak bersiap-siap secara psikologis.
Membangun Motivasi Melalui Konten Positif
Orang tua dapat membangkitkan semangat dan motivasi anak dengan memperkenalkan konten positif dan inspiratif. Misalnya, dengan menonton film atau membaca buku yang menggambarkan petualangan sekolah yang menyenangkan. Aktivitas ini tidak hanya dapat memicu imajinasi anak, tetapi juga membuat mereka lebih antusias untuk kembali berinteraksi dengan teman-teman dan guru mereka. Paparan terhadap konten yang positif dapat memberikan gambaran menarik tentang dunia sekolah, sehingga anak lebih tertarik untuk beraktivitas akademis.
Perkenalkan Aktivitas Belajar yang Menyenangkan
Kreativitas orang tua dalam mengemas aktivitas belajar yang menyenangkan menjadi kunci untuk mengatasi kejenuhan anak setelah liburan. Cobalah mengaitkan materi pelajaran dengan permainan yang menarik. Misalnya, konsep matematika bisa disampaikan melalui permainan angka atau teka-teki logika yang menantang. Begitu juga dengan mata pelajaran lainnya, yang dapat divariasikan dengan kegiatan yang melibatkan keterampilan visual, auditory, dan kinesthetic, sesuai dengan gaya belajar masing-masing anak.
Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan
Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan terkait jadwal belajar mereka juga bisa menjadi langkah yang efektif. Anak yang merasa memiliki kontrol atas aktivitas belajarnya cenderung lebih termotivasi. Diskusikan dengan anak tentang mata pelajaran mana yang mereka anggap sulit dan cari cara bersama untuk menanganinya. Dengan demikian, anak merasa didukung secara aktif dan mampu melihat tantangan akademis sebagai hal yang bisa diatasi bersama-sama dengan orang tua.
Bangun Lingkungan Belajar yang Kondusif
Terakhir, ciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah agar anak merasa lebih nyaman dan fokus. Lingkungan yang baik harus bebas dari gangguan dan memiliki atmosfer yang mendukung kegiatan belajar. Pastikan meja belajar anak tertata rapi dengan alat yang diperlukan sudah tersedia. Selain itu, memberi jeda waktu istirahat di antara sesi belajar juga penting untuk menjaga konsentrasi tetap optimal. Jangan lupa beri apresiasi atas usaha yang telah mereka lakukan untuk menjaga semangat belajar tetap tinggi.
Secara keseluruhan, mengatasi rasa malas anak setelah liburan panjang memerlukan pendekatan yang holistik dari orang tua. Dengan memahami perasaan anak, memfasilitasi penyesuaian rutinitas, memotivasi dengan konten positif, serta mengemas aktivitas belajar menjadi lebih menyenangkan, transisi ke kehidupan sekolah akan menjadi lebih lancar. Oleh sebab itu, pendekatan ini bukan hanya soal kembali ke rutinitas, melainkan juga tentang menguatkan hubungan keluarga dan mendukung perkembangan pribadi anak secara keseluruhan.















































































